
“INDONESIA MENANGIS, MARAH: KORUPSI MBG DI ERA PEMERINTAHAN PRABOWO”
Penulis: Chandra Reflianto Takser, Pemimpin Redaksi Pena Jurnalis Indonesia
JAKARTA,penajurnalisindonesia.com-
Pembuka: Niat Mulia yang Digadaikan
Program Makan Bergizi Gratis MBG lahir dari satu janji: anak Indonesia kenyang, cerdas, jadi generasi emas. Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menegaskan nawaitu itu di setiap pidato. Tapi janji itu diulang ketika Kejaksaan Agung membongkar dugaan korupsi di jantung Badan Gizi Nasional BGN. Yang tersisa bukan lagi aroma makanan bergizi, tapi bau busuk dikhianati. Celana rakyat menangis. Pantas rakyat marah.
Fakta di Meja Hijau: 3 Juni 2026, Hari Kelam BGN
Rabu, 3 Juni 2026. Hanya sehari setelah dicopot Presiden Prabowo, Kejagung menetapkan 3 pimpinan tertinggi BGN sebagai tersangka korupsi tata kelola MBG 2025-2026:
1. Dadan Hindayana. Mantan Kepala BGN
2.Sony Sonjaya. Mantan Wakil Kepala BGN
3. Lodewyk Pusung. Mantan Wakil Kepala BGN
Ketiganya langsung ditahan 20 hari di Rutan Salemba. Penyidikan Jampidsus dimulai 29 Mei 2026, dilanjut penggeledahan 15 jam kantor BGN Kebon Sirih dengan pengawalan TNI. Kasus berkembang, total 6 tersangka telah ditetapkan, termasuk unsur swasta Asep Yusuf Somantri dan Komisaris PT YAT Andri Mulyono.
Modus Kotor: Yayasan Bodong & Motor Listrik Miliaran
Dua luka utama yang dibuka Kejagung:
1. Portal SPPG Siluman: Para tersangka diduga diperintahkan verifikasi khusus untuk meloloskan yayasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang tidak memenuhi syarat. Ironisnya, yayasan itu terafiliasi dan dimiliki oleh mereka sendiri. Insentif ilegal miliaran rupiah mengalir tiap hari.
2. Mark-up Motor Listrik: 21.801 unit motor listrik untuk distribusi MBG dibeli Rp42 juta/unit dari PT YAT. Harga digelembungkan. Buktinya? Ribuan unit terbengkalai di gudang Sentul, Bogor, belum semua dirakit sampai April 2026. Andri Mulyono diseret karena penggelembungan harga dan dokumen manipulatif.
Konteksnya: Dalam setahun
pemerintahan Prabowo-Gibran, Kejagung, KPK tangani 43 kasus korupsi dengan potensi kerugian negara Rp320,4 triliun. MBG jadi salah satu “kasus besar yang menyita perhatian publik”.
Bikin Menangis: Air Mata Ibu dan Anak
Korupsi MBG tidak berhenti di angka. Ia turun ke lapangan, ke piring anak sekolah.
1. Air mata rakyat: Koalisi MBG Watch gugat UU APBN 2026 ke MK. Suara Ibu Peduli MBG dan Kenduri Suara Ibu Yogyakarta turun ke jalan. Mereka bukan aktivisme, tapi ibu, guru, warga yang melihat keracunan anak. Kalis Mardiasih tegas: “Terbongkarnya skandal bukan prestasi, tapi menegaskan kebobrokan desain tata kelola dari mula”.
2. Air mata pejabat: 26 September 2025, Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang menangis saat meminta maaf atas keracunan massal MBG. Suara terbata: “Saya seorang ibu. Melihat anak-anak digotong ke puskesmas, sedih hati saya… Nawaitu kami ingin membantu anak memenuhi gizinya”.
Bikin Marah: Kepercayaan yang Dikebiri
Kemarahan publik meledak bukan tanpa sebab. Sorotan tajam mengarah ke:
– Dugaan mark-up harga bahan makanan
– Kualitas makanan tidak sebanding dengan anggaran
– Mekanisme pengadaan kurang transparan
– Distribusi anggaran belum merata
Edy Kurniawan dari YLBHI mengingatkan: Pencopotan pimpinan tidak menyentuh akar persoalan selama Perpres 115/2025 cacat prosedur dan substansi, tidak ada jaminan hak atas pangan layak.
Pemerintah memilih mempertahankan narasi keberhasilan berbulan-bulan sambil menutup mata pada akumulasi bukti. Kini pencopotan pimpinan sama dengan pengakuan tersirat atas kegagalan itu.
Penutup: Ujian Terberat Prabowo
Prabowo mengambil sikap: copot, hormati proses hukum, ganti bila bersalah. Itu sinyal tegas anti korupsi. Transparansi anggaran dan digitalisasi layanan juga digencarkan.
Tapi belajar, ujian sesungguhnya bukan di pidato. Ujian sesungguhnya ada di dapur SPPG, di piring anak-anak Bitung, di hati ibu-ibu yang berhubungan dengan demi MBG.
MBG boleh jadi program prioritas. Tapi ketika prioritas itu dikorup, maka yang dikorbankan adalah masa depan bangsa. Rakyat sudah menangis. Rakyat sudah marah. Kini giliran negara membuktikan: apakah MBG akan jadi monumen yang dikhianati, atau pelajaran mahal agar korupsi tidak lagi berani menyentuh perut anak bangsa.

